Sabtu, 08 Mei 2021

RINGAN DI LISAN, BERAT DI MIZAN

 AMALAN LISAN, RINGAN DILAFALKAN TAPI BERAT DI MIZAN...

MARI AMALKAN DZIKIR-DZIKIR TITIPAN RASULULLAH SHALLALLAHU ALAIHIWASALLAM. KAMI KUTIPKAN DARI BEBERAPA REFERENSI YANG JUMLAHNYA TERBATAS YANG ADA DI SIMPANAN. HARAP MAKLUM DAN SEMOGA POSTINGAN INI BERMANFAAT BUAT KITA SEMUA. SALAM TAKZIM, ANASSEKUDUK. 


وَقَالَ : أَيَعْجِزُ أَحَدُكُمْ أَنْ يَكْسِبَ كُلَّ يَوْمٍ أَلْفَ حَسَنَةٍ؟ فَسَأَلَهُ سَائِلٌ مِنْ جُلَسَائِهِ، كَيْفَ يَكْسِبُ أَحَدُنَا أَلْفَ حَسَنَةٍ؟ قَالَ:

يُسَبِّحُ مِائَةَ تَسْبِيْحَةٍ، فَيُكْتَبُ لَهُ أَلْفُ حَسَنَةٍ أَوْ يُحَطُّ عَنْهُ

 أَلْفُ خَطِيْئَةٍ.

“Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Apakah seseorang di antara kamu tidak mampu mendapatkan 1.000 kebaikan tiap hari?” Salah seorang di antara yang duduk bertanya: “Bagaimana di antara kita bisa memperoleh 1.000 kebaikan (dalam sehari)?” Rasul bersabda: “Hendaklah dia membaca 100 tasbih, maka ditulis 1.000 kebaikan baginya atau 1.000 kejelekannya dihapus.” (HR. Muslim 4/2073)[1]

رَوَى الشَّيْخَانِ عَنْ أَبِيْ أَيُّوْبَ الْأَنْصَارِّيِّ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى

اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ مَنْ قَالَ لَاإِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ عَشْرَ مَرَّاتٍ كَانَ كَمَنْ أَعْتَقَ أَرْبَعَةَ أَنْفُسٍ مِنْ وَلَدِ إِسْمَعِيْلَ

Bukhari-Muslim meriwayatkan dari Abu Ayyub Al-Anshari ra, dari Nabi Saw bahwa beliau bersabda: ”Barang siapa yang membaca:

[لَاإِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ]

(Tiada ilah kecuali Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nyalah segala kekuasaan dan segala pujian. Dia Maha Berkuasa atas segala sesuatu) sebanyal 10 kali, maka seolah dia telah memerdekakan 4 orang budak dari keturunan Isma’il.”[2]

رَوَى الشَّيْخَانِ عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ مَنْ قَالَ لَاإِلَهَ إِلَّااللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ كَانَتْ لَهُ عَدْلَ عَشْرِ رِقَابٍ وَكُتِبَتْ لَهُ مِائَةُ حَسَنَةٍ وَمُحِيَتْ عَنْهُ مِائَةَ سَيِّئَةٍ وَ كَانَتْ لَهُ حِزْرًا مِنَ الشَّيْطَانِ يَوْمَهُ ذَالِكَ حَتَّى يُمْسِيَ وَلَمْ يَأْتِ أَحَدٌ بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ إِلَّا أَحَدٌ عَمِلَ

 أَكثَرَ مِنْ ذَالِكَ وَقَالَ مَنْ قَالَ سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ حُطَّتْ لَهُ خَطَايَاهُ وَلَوْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ

“Bukhari-Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah Saw bersabda: ‘Barang siapa yang membaca:

[لَاإِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ]

(Tiada ilah kecuali Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nyalah segala kekuasaan dan segala pujian. Dia Maha Berkuasa atas segala sesuatu) dalam sehari sebanyak 100 kali, dia akan mendapatkan pahala seperti memerdekakan 10 budak, dituliskan untuknya 100 kebaikan, dihapus 100 kesalahannya, sepanjang hari itu dia dipelihara dari gangguan syetan sampai tiba sore hari, dan tak ada seorang pun yang membawa amalan yang lebih utama daripadanya, kecuali orang yang membacanya lebih banyak lagi.” Beliau juga bersabda: ‘Barang siapa membaca:

[سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ]

 (Mahasuci Allah dan segala puji bagi-Nya), dalam sehari sebanyak 100 kali, maka dosa-dosanya akan dihapus meski sebanyak buih di lautan.”[3]

Jabir ra, meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda,

       مَنْ قَالَ: سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيْمِ وَبِحَمْدِهِ، غُرِسَتْ لَهُ نَخْلَةٌ فِي الْجَنَّةِ

“Barang siapa yang mengucapkan kalimat:

[سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيْمِ وَبِحَمْدِهِ]

(Mahasuci Allah, Mahaagung, dan dengan memuji-Nya), maka sebuah pohon kurma ditanam baginya di surga untuknya.” (HR. Tirmidzi)[4]

Juwairiyah ra meriwayatkan bahwa pada suatu saat Nabi Saw keluar dari rumah beliau, kemudian kembali setelah waktu Dhuha tiba. Ketika itu Juwairiyah masih tetap duduk. Maka Nabi Saw bertanya kepadanya,

“Kamu masih dalam keadaan ketika aku pergi darimu?”

Juwairiyah menjawab, “Ya,”

Lalu beliau bersabda,

“Sungguh, setelah aku pergi dari tempatmu, aku telah mengucapkan empat kalimat sebanyak tiga kali yang jika ditimbang dengan kata-katamu sejak hari ini, keempat kalimat itu menandingi ucapan-ucapanmu. Keempat kalimat itu adalah

سُبْحَانَ اللهِ عَدَدَ خَلْقِهِ وَرِضَا نَفْسِهِ وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَمِدَدَ كَلِمَاتِهِ

(Mahasuci Allah sebanyak makhluk-Nya, sesuai dengan kerelaan diri-Nya, setimbang ‘Arsy-Nya, dan sebanyak tinta kalimat-kalimat-Nya).” (Diriwayatkan Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, dan Ibnu Majah)[5]

Salman al-Farisi ra meriwayatkan bahwa Nabi Saw telah bersabda,

لَايَغْتَسِلُ رَجُلٌ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَيَتَطَهَّرُ بِمَا اسْتَطَاعَ مِنْ طُهْرٍ وَيَدَّهِنُ مِنْ دُهْنِهِ أَوْ يَمَسُّ مِنْ طِيْبِ بَيْتِهِ ثُمَّ يَرُوْحُ إِلَى الْمَسْجِدِ فَلَا يُفَرِّقُ بَيْنَ اثْنَيْنِ ثُمَّ يُصَلِّي مَا كَتَبَ اللهُ لَهُ ثُمَّ يُنْصِتُ لِلْإِمَامِ إِذَا تَكَلَّمَ إِلَّا غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَ الْجُمُعَةِ الْأُخْرَى.

“Tidaklah seseorang mandi pada hari Jumat dan membersihkan bagian anggota tubuh (kumis, kuku, dan rambut kemaluan) kemudian dia bersisir dan memakai wewangian lalu ia pergi ke masjid tanpa memisahkan di antara dua orang yang telah duduk, kemudian mengerjakan shalat sunnah serta mendengarkan imam di waktu berkhotbah, melainkan akan diampuni dosa-dosanya antara Jumat itu dengan Jumat berikutnya.” (Diriwayatkan Bukhari)[6]

Ahmad dan Abu Dawud meriwayatkan dari Buraidah bahwa Rasulullah Saw bersabda,

فِى الْإِنْسَانِ سِتُّوْنَ وَثَلَاثَمِائَةِ مَفْصَلِ, عَلَيْهِ عَنْ يَتَصَدَّقَ عَنْ كُلِّ مَفْصَلِ مِنْهَا صَدَقَةٌ...

“Di dalam tubuh manusia terdapat 360 persendian. Ia harus menyedekahi setiap persendian itu.”

Para sahabat bertanya, “Siapa yang dapat melakukannya, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Memendam ludah (membersihkan kotoran) yang ada di dalam masjid (merupakan sedekah) dan menyingkirkan aral dari jalanan (juga sedekah). Jika tidak dapat melakukannya, maka ia cukup mengerjakan 2 rakaat shalat Dhuha.” (Diriwayatkan Abu Dawud dan Ahmad)[7]

Rasulullah Saw juga bersabda,

إِنَّ مِمَّا يَلْحَقُ الْمُؤْمِنَ مِنْ عَمَلِهِ وَحَسَنَاتِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ عِلْمًا نَشَرَهُ أَوْ وَلَدًا صَالِحًا تَرَكَهُ أَوْ مُصْحَفًا وَرَّثَهُ أَوْ مَسْجِدًا بَنَاهُ

أَوْ بَيْتًا لِإِبْنِ السَّبِيْلِ بَنَاهُ أَوْ نَهْرًا أَجْرَاهُ أَوْ صَدَقَةً أَخْرَجَهَا مِنْ مَالِهِ فِي صِحَّتِهِ وَحَيَاتِهِ تَلْحَقُهُ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهِ.

“Sesungguhnya di antara hal-hal yang menyusul orang mukmin dari amal dan kebaikan-kebaikannya setelah kematiannya adalah ilmu yang disebarkannya, anak shaleh yang ditinggalkannya, mushaf yang diwariskannya, masjid yang didirikannya, rumah untuk para musafir yang dibangunnya, sungai yang dialirkannya, atau sedekah yang dikeluarkannya dari hartanya ketika dia masih sehat dan hidup, yang menyusulnya setelah kematiannya.” (Diriwayatkan Ibnu Majah)[8]

Tentang mendoakan muslimin muslimat, mukminin-mukminat, Rasulullah Saw bersabda:

مَنِ اسْتَغْفَرَ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ كَتَبَ اللهُ لَهُ بِكُلِّ مُؤْمِنٍ وَ مُؤْمِنَةٍ حَسَنَةً

“Barangsiapa memintakan ampun kepada Allah untuk kaum mukminin-mukminat, maka Allah akan menuliskan baginya dari setiap orang mukmin dan mukminat itu satu kebaikan.” (HR. Thabrani dari Ubaidah bin Shamit)[9]

Utsman bin Affan meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda,

مَا مِنْ عَبْد يَقُوْلُ فِى صَبَاح كُلِّ يَوْمٍ وَمَسَاء كُلِّ لَيْلَة: بِاسْمِ اللهِ الَّذِيْ لَايَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِى الْاَرْضِ وَلَا فِى السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ فَيَضُرُّهُ شَيْءٌ.

“Jika seorang hamba membaca kalimat:

[بِاسْمِ اللهِ الَّذِيْ لَايَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِى الْاَرْضِ وَلَا فِى السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ]

(Dengan menyebut nama Allah yang tidak ada sesuatu apa pun di bumi dan di langit yang dapat menimbulkan bahaya jika menyebut namanya, Dia Maha Mendengar dan Maha Mengetahui) sebanyak tiga kali pada pagi dan sore hari, ia tidak akan terkena bahaya apa pun.” (Diriwayatkan Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmad, Ibnu Hibban, dan Hakim)[10]

 

 



[1] Hisnul Muslim, Said bin Ali Qathani E-Book

[2] Ringkasan Riyadhus Shalihin, Imam Nawawi, Peringkas Syaikh Yusuf An-Nabhani, Penerbit: Irsyad Baitus Salam: Bandung, 178

[3] Ibid, h. 178-179

[4] Fiqh Sunnah Jilid 2, Sayyid Sabiq, Penerbit: Pundi Aksara: Jakarta, hlm. 450

[5] Fiqh Sunnah Jilid 2, Sayyid Sabiq, Penerbit: Pundi Aksara: Jakarta, hlm. 455

[6] Fiqh Sunnah Jilid 1, Sayyid Sabiq, Penerbit: Pundi Aksara: Jakarta, hlm. 580

[7] Fiqh Sunnah Jilid 1, Sayyid Sabiq, Penerbit: Pundi Aksara: Jakarta, hlm. 377

[8] Fiqh Sunnah Jilid 5, Sayyid Sabiq, Penerbit: Pundi Aksara: Jakarta, hlm. 434

[9] Nashaihul Ibad: Menjadi Santun dan Bijak, Imam Nawawi Al-Bantani, Penerbit: Irsyad Baitus Salam: Bandung, hlm. 483

[10] Fiqh Sunnah Jilid 2, Sayyid Sabiq, Penerbit: Pundi Aksara: Jakarta, hlm. 478

Jumat, 23 April 2021

AL-I'TIRAF (KUTIPAN DARI NASHAIHUL IBAD)

suatu malam di langit Sejangkung...dishoot oleh ponakan (M. Safari Ariga)

Abu Nuwas mengatakan dalam syairnya[1]:

Apabila dosaku dihitung, sungguh sangat banyak sekali

Tetapi rahmat Tuhanku lebih luas daripada dosaku

Aku tidak mengharapkan apa-apa

dari amal baik yang kulakukan

Aku hanya mengharapkan rahmat Allah

Dialah Allah

Sang Pemberi nikmat yang telah menciptakan aku

Sesungguhnya

aku adalah seorang hamba yang tunduk

dan merendahkan diri kepada-Nya

apabila Allah memberikan ampunan,

itu adalah rahmat

Jika terjadi yang lain, maka aku tak dapat berbuat apa-apa

 

Rasulullah Saw pernah bersabda:

مَنْ أَرَادَ أَنْ لَايُوْقِفَهُ اللهُ عَلَى قَبِيْحِ أَعْمَالِهِ وَلَايَنْشُرَلَهُ دِيْوَانًا فَلْيَدْعُ بِهَذَا الدُّعَاءِ فِى دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ وَهُوَ: اَللَّهُمَّ إِنَّ مَغْفَرَتَكَ أَرْجَى مِنْ عَمَلِى وَإِنَّ رَحْمَتَكَ أَوْسَعُ مِنْ ذَنْبىِ اَللَّهُمَّ إِنْ لَمْ أَكُنْ أَنْ أَبْلُغَ رَحْمَتَكَ فَرَحْمَتَكَ أَهْلٌ أَنْ تَبْلُغَنِى لِأَنَهَا وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

“Barangsiapa menghendaki agar Allah tidak menghisab amalnya dan tidak pula membeberkannya di hadapan semua makhluk, maka hendaknya ia berdoa dengan doa berikut ini setiap selesai melakukan shalat: ‘’ (Ya Allah, sesungguhnya ampunan-Mu lebih aku harapkan daripada amalku dan sesungguhnya rahmat-Mu lebih luas daripada (banyaknya) dosaku. Ya Allah, apabila aku bukan termasuk mereka yang berhak untuk meraih rahmat-Mu, maka rahmat-Mu tentu dapat meraihku karena rahmat-Mu meliputi segala sesuatu, wahai Dzat Yang Maha Penyayang di antara para penyayang.)”[2]

 

 



[1] Nashaihul Ibad, Muhammad Nawawi bin Umar Al-Jawi (Muhammad Nawawi Al-Bantani), Penerbit Irsyad Baitussalam. Hal. 188

[2] Nashaihul Ibad, Muhammad Nawawi bin Umar Al-Jawi (Muhammad Nawawi Al-Bantani), Penerbit Irsyad Baitussalam. Hal. 189

Kamis, 15 April 2021

RAMPAI RISALAH RAMADHAN: MAKNA BERKAH DALAM SAHUR

 

RAMPAI RISALAH RAMADHAN

ASSALAMU’ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH.

Alhamdulillah Washshalatu Wassalamu ‘ala Rasulillah.

Marhaban Ya Ramadhan, betapa bahagianya hati ini masih dipertemukan Allah Swt dengan bulan nan mulia ini. Bahwa doa yang kita panjatkan: Allahumma bariklanaa fii Rajaab wa Sya’ban wa ballighnaa Ramadhan itu terkabulkan. Tak lain dalam hati berharap semoga Ramadhan kali ini lebih baik yang lalu. Moga bisa merasakan manisnya ibadah dan didikan Syahru Shiyam ini.

MAKNA BERKAH DALAM SAHUR

Bulan Ramadhan tak diragukan lagi ialah bulan yang amat istimewa. Bagaimana tidak, di bulan ini pintu langit/surga dibukakan, pintu neraka ditutup, syetan-syetan pula dibelenggu. Ada pula beragam amaliyah sunnah serta suasana batin yang ada di bulan ini yang kiranya tidak kita temukan di bulan lainnya, salah satu di antaranya ialah sunnah bersahur. Marilah kita simak sabda Rasulullah Saw terkait amaliyah yang satu ini:

رَوَى الشَّيْخَانِ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَسَحَّرُوْا فَإِنَّ فِى السَّحُوْرِ بَرَكَةً

Bukhari-Muslim meriwayatkan dari Anas ra, ia berkata: “Rasulullah Saw bersabda: ’Bersantap sahurlah kalian, sebab dalam sahur itu terdapat barakah.’”[1]

Kesunnahan bersahur dan menyegerakan berbuka juga dapat dilihat dari hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam kitab Musnadnya:

          لَاتَزَالُ أُمَّتِيْ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ وَأَخَّرُوا السَّحُوْرَ

          “Umat saya selalu dalam kebaikan, selama mereka segera berbuka dan mengakhirkan sahur.”

Dalam Kifayatul Akhyar disebutkan bahwasanya sunatnya sahur itu sudah merupakan ijma’ ulama, dan kesunatan itu sudah diperoleh walau dengan sedikit makan atau minum air. Dalam kitab sahih Ibnu Hibban, juga dalam kitab Syarah Muhazzab Imam Nawawi terdapat hadits berbunyi:

تَسَحَّرُوْا وَلَوْ بِجُزْعَةِ مَاءٍ

“Sahurlah walau dengan seteguk air.”

Imam Rofi’i menyatakan waktu sahur ialah tengah malam (malam sudah lewat separoh).[2]

Kembali ke judul dari tulisan ini, apakah makna berkah yang dimaksud sebagaimana juga tertera dalam HR. Bukhari-Muslim dari Anas ra di atas?

Makna di dalam sahur itu terdapat berkah memiliki beberapa maksud: Pertama, dengan santap sahur yang walaupun sedikit dapat membantu melaksanakan puasa. Kedua, maksud berkah di sini ialah bahwa anjuran sahur itu tidak memberatkan/tidak wajib. Ketiga, melaksanakan puasa dengan penuh ketaqwaan karena sahur menghasilkan tenaga untuk beribadah dan mencegah melakukan akhlak tercela yang timbul karena rasa lapar. Keempat, berkaitan dengan perkara-perkara bersifat ukhrawi karena melaksanakan pekerjaan sunnah dapat menghasilkan pahala dan tambahannya.[3]

Al-Qadhi ‘Iyadh berkata mungkin berkah sahur bagi yang melakukannya tidaklah sama dengan melakukan dzikir, shalat atau amalan lainnya, yang seandainya tidak melakukan sahur seseorang akan terus tertidur dan meninggalkan semua amal tersebut.[4]

Imam Rofi’fi menyatakan hikmah mengakhirkan sahur itu adalah agar kita kuat menjalani puasa.[5] Orang-orang yang bersahur juga didoakan oleh Allah Swt dan para malaikat sebagaimana ditakhrij Imam Ahmad dari Abu Said Al-Khudri bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Sahur itu mengandung berkah, maka janganlah kamu meninggalkannya walaupun salah seorang di antara kalian meneguk satu tegukan air karena

(فَإِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى الْمُسَحَّرِيْنَ), Allah dan para malaikat-Nya mendoakan orang-orang yang sahur.[6]

Hendaknya tidak berlebihan saat bersahur. Karena perut yang kekenyangan bisa menyebabkan seseorang tidak dapat menggunakan waktunya secara optimal. Hal ini karena kekenyangan menyebabkan timbulnya rasa malas dan lemas, hingga tujuan berpuasa jadi hilang karena terlalu banyak makan sementara di antara tujuan berpuasa ialah agar ia dapat merasakan lapar dan meninggalkan hal-hal yang menggugah selera.[7]

(mulai diketik +- 22.30, 12 April 2021. Selesai +-01.35, 13 April 2021)

foto: dokumentasi pribadi anassekuduk/nasrullah
tour dakwah MTs dan MA. M. Basiuni Imran Sambas di Sebelitak (IMG20180128102459)

Catatan tambahan: 

Pada entry yang diberi judul “Rampai Risalah Ramadhan” ini, kami ingin merekam dalam bentuk tulisan bersitan pikiran, ide, refleksi atau kutipan referensi yang ada kaitannya dengan poin-poin yang diangkat dengan tema tertentu yang menurut kami menarik, unik, atau penting untuk dikaji dari bulan yang istimewa ini. Di bahasan yang memang terkait kutipan atau memerlukan rujukan, kami berusaha menulis dengan tetap mengajukan referensi. Akan tetapi maaf jika kurang memuaskan atau memadai karena koleksi buku yang terbatas yang kami miliki di rumah. Jadi, Anda bisa menambah bacaan dari sumber lain jika memerlukan uraian lebih lanjut. Sekian kiranya untuk sekadar pembuka kata. Tentu tulisan ini tak lepas dari khilaf dan kekurangan, karenanya diawali dengan bismillah, juga dengan harapan moga usaha ini bermanfaat dan bernilai amal jariyah, kami juga berharap pengunjung melakukan kajian ulang, atau telusuran lebih lanjut jika menemukan hal yang perlu dikonfirmasi atau dicari pembandingnya. Moga Allah Swt memberikan ilmu pengetahuan dan wawasan yang lurus dan benar. Memberikan hidayah dan inayah-Nya dalam setiap gerak raga dan batin kita. Amin.

Salam takzim, anassekuduk/nasrullah.

(mulai diketik +- 22.30, 12 April 2021. Selesai +-01.30, 13 April 2021)

 



[1] Ringkasan Riyadhush Shalihin (diringkas oleh Syaikh Yusuf An-Nabhani dari kitab Riyadush Shalihin karya Imam Nawawi), Penerbit: Irsyad Baitus Salam, Bandung. Hal, 234

[2] Terjemah Kifayatul Akhyar jilid 1 (judul asli: Kifayatul Akhyar fil Ghayatil Ikhtishar, penulis: Imam Taqiyuddin Abu Bakar Al-Husaini). Penerbit PT. Bina Ilmu Offset, cet. II, 1997,  hal. 421

[3] Demikianlah diuraikan di bagian penjelasan HR. Bukhari dari Anas bin Malik dalam Kumpulan Hadits Shahih Bukhari Muslim. Judul asli Al-Lu’lu’ wal Marjan Fima Ittafaqa ‘alaihi Asy-Syaikhani Al-Bukhari wa Muslim. Penerbit Insan Kamil Solo, hal. 297

[4] Ibid.

[5] Terjemah Kifayatul Akhyar jilid 1 (judul asli: Kifayatul Akhyar fil Ghayatil Ikhtishar, penulis: Imam Taqiyuddin Abu Bakar Al-Husaini). Penerbit PT. Bina Ilmu Offset, cet. II, 1997,  hal. 421

[6] Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah. Penerbit Pena Pundi Aksara. Hal 232

[7] Minhajul Qashidin, Imam Asy-Syaikh Ahmad bin Ahmad bin Abdurrahman bin Qudamah Al-Maqdisy. Penerjemah: Kathur Suhardi. Penerbit Pustaka Al-Kautsar. Hal. 45

KHUTBAH JUM'AT: SEMANGAT TAHUN BARU HIJRIYAH DAN MUHASABAH

                اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ َوَرَحْمَتُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ اَلْحَمْدُ لِلّهِ نَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُوْهُ وَنَعُوْذُ ب...